Internatinaol Guest Lecture

Kuliah Tamu Internasional di Unwahas Angkat Isu Relasi Muslim–Kristen dan Tantangan Pluralisme

Centre for Research on Muslim Societies (CRMS), Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim Semarang bekerjasama dengan Centre for Muslim-Christians Studies (CMCS) Oxford, Inggris menghelat International Guest Lecture bertajuk “Muslim-Christian Relation in Contemporary Society: Religious Education, Interfaith Engagement, and The Challenge of Pluralism”. Acara tersebut diselenggarakan di Auditorium Kampus II Fakultas Kedokteran Universitas Wahid Hasyim Semarang, Rabu (15/04/26) Sore.

Richard McCallum, salah satu narasumber yang juga Direktur CMCS menjelaskan bahwa relasi kelompok Islam-Kristen berjalan tidak selalu sama di negara-negara dunia, termasuk kawasan barat sekalipun. Yang terjadi di Inggris, tidak sama dengan Prancis, terutama dalam kebijakan sekularisme dan pluralism agama. Begitu juga relasi masyarakat muslim dan Kristen di Amerika Serikat memiliki dinamika yang berbeda karena pengaruh pluralisme dan kebebasan beragama.

Lebih jauh, McCallum menjelaskan bahwa keragaman ini juga tampak jelas di kawasan lain. Di Afrika, misalnya, relasi antara Muslim dan Kristen di Nigeria tidak bisa disamakan dengan Ghana, mengingat perbedaan sejarah konflik, komposisi demografis, serta peran negara dalam mengelola keberagaman. Hal serupa juga terlihat di Asia, di mana Pakistan dan Korea Selatan memiliki konteks yang sangat berbeda, baik dari segi mayoritas agama, sistem politik, maupun pendekatan terhadap pendidikan agama.

Pengajar di Wycliff Hall melanjutkan pemaparannya, dengan membedah apa yang ia sebut sebagai ragam pluralisme yang membentuk relasi antaragama di masyarakat kontemporer. Ia menyoroti realitas pluralitas sosial yang semakin kompleks, dimana masyarakat kini tidak lagi berada di bawah satu payung nilai religius yang seragam. Kehidupan sosial justru ditandai oleh keberagaman keyakinan, identitas, dan cara pandang yang hidup berdampingan.

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi ini tidak serta-merta identik dengan sekularisasi dalam arti hilangnya agama dari ruang publik. McCallum menegaskan perbedaan penting antara sekularisasi dan sekularisme. Sekularisasi merujuk pada proses sosial yang mengubah posisi agama dalam masyarakat, sedangkan sekularisme adalah ideologi atau sikap normatif yang mendorong pemisahan agama dari kehidupan publik.

Melalui kerangka tersebut, Richard McCallum kemudian memperkenalkan program Summer School yang diselenggarakan oleh lembaga yang ia pimpin. Program ini menjadi ruang perjumpaan di mana para peserta dari latar belakang Muslim dan Kristen tidak hanya saling belajar tentang tradisi keagamaan masing-masing, tetapi juga berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam suasana dialogis.

Tedi Kholiludin, Direktur CRMS sekaligus dosen Fakultas Agama Islam, memaparkan dua fokus utama dalam kajiannya mengenai relasi Muslim–Kristen di Indonesia, yakni gambaran kehidupan keagamaan pascareformasi serta peran pendidikan dalam membangun jembatan dialog antarumat beragama.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia merupakan masyarakat yang sangat plural, dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan komunitas Kristen yang signifikan. Sejak era Reformasi 1998, relasi antaragama berkembang dalam lanskap baru yang ditandai oleh demokratisasi, desentralisasi, serta keterbukaan yang sekaligus menghadirkan ruang kontestasi. Dalam konteks ini, agama tidak hanya berperan secara spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan politik yang membentuk wacana publik, identitas, hingga kohesi sosial.

Menurutnya, pascareformasi membuka ruang demokrasi yang lebih luas serta mendorong munculnya berbagai inisiatif lintas iman. Namun, tantangan tetap ada, seperti konflik terkait pendirian rumah ibadah, politisasi agama, serta polarisasi di ruang digital. Ia juga menyoroti kecenderungan mayoritarianisme di sejumlah wilayah, yang ditandai dominasi narasi mayoritas dan terbatasnya ruang ekspresi kelompok minoritas. Meski demikian, berbagai inisiatif perdamaian berbasis masyarakat sipil terus tumbuh, termasuk di daerah-daerah pascakonflik seperti Ambon dan Poso, serta melalui komunitas lintas iman di berbagai kota.

Dalam bagian kedua, ia menekankan pentingnya pendidikan, khususnya pendidikan agama, sebagai ruang strategis untuk membentuk cara pandang terhadap “yang lain”. Berdasarkan penelitian awal di sepuluh sekolah teologi, ia menemukan bahwa pengajaran Islam tidak sekadar menjadi transfer pengetahuan, tetapi juga berpotensi menjadi jembatan dialog.

Sosiolog Agama tersebut mengidentifikasi tiga model pedagogis: insider–academic, di mana Islam diajarkan oleh pengajar Muslim dengan pendekatan akademik; engaged interfaith, yang menekankan dialog dan pengalaman lintas iman; serta academic–reflective, yang memposisikan Islam sebagai objek kajian kritis. Ketiga model ini menunjukkan bahwa pendidikan dapat berfungsi tidak hanya membangun batas, tetapi juga membuka ruang perjumpaan.

Ia menyimpulkan bahwa relasi Muslim–Kristen di Indonesia bersifat kompleks, dinamis, dan terus berproses. Dalam hal ini, ruang kelas menjadi intervensi kecil namun signifikan dalam membangun pemahaman dan menjembatani perbedaan di tengah masyarakat plural. Peserta seminar dihadiri kurang lebih 100-an peserta yang berasal dari berbagai kalangan mulai aktivis lintas agama, organisasi masyarakat, tokoh agama, mahasiswa, dan lainnya. [Jaedin]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *