Semarang – Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Generasi Cerdas Syariah: Sinergi Intelektual, Emosional, dan Spiritual dalam Era Globalisasi” pada Jumat, 18 April 2026, pukul 09.00 WIB, bertempat di Ruang Rapat Lantai 6, Gedung KH. Sholeh Darat, Kampus 1 Unwahas, Sampangan.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Ali Romdhoni, M.A., Ph.D., Budy Sugandi, Ph.D., dan Putri Amanda, S.H., M.Kn., dengan dipandu oleh moderator Ubaddul Adzkia, M.Si. Seminar ini ditujukan bagi mahasiswa sebagai upaya memperluas wawasan akademik dan meningkatkan kesiapan menghadapi tantangan global.
Dalam pengantarnya, moderator Ubaddul Adzkia, M.Si. mengarahkan diskusi kepada isu strategis terkait bagaimana mahasiswa mampu membaca serta membuka wacana atas berbagai respons terhadap tantangan zaman. Ia menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa dalam memahami fenomena sosial yang berkembang agar kelak dapat memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Pada sesi pemaparan materi, narasumber pertama, Ali Romdhoni, M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tiongkok dan PBI hingga saat ini masih menjalin relasi komunikasi yang aktif serta terbuka dalam kolaborasi program, khususnya dalam pengembangan kapasitas intelektual mahasiswa. Ia menegaskan bahwa forum ilmiah seperti seminar ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata serta meningkatkan bobot akademik mahasiswa di tengah dinamika dunia pendidikan yang terus berubah. Ia juga mengungkapkan bahwa lembaga pendidikan agama memiliki peran historis penting, termasuk dalam melahirkan institusi pendidikan tertua di dunia.
Narasumber kedua, Budy Sugandi, Ph.D., menyampaikan apresiasinya atas undangan yang diberikan oleh Unwahas. Ia menilai pertemuan dengan mahasiswa menjadi momentum penting untuk berbagi perspektif. Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah menciptakan kader yang tidak hanya memiliki kapasitas saintifik, tetapi juga mampu bersifat generalis dan adaptif. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara nilai-nilai agama dan perkembangan geopolitik global agar mahasiswa mampu bertahan dan bersaing di dunia kerja, khususnya di sektor industri dan perusahaan. Ia juga mendorong mahasiswa untuk memiliki sudut pandang berbeda (distinctive angle) agar dapat unggul secara kompetitif. Selain itu, ia menegaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) menuntut sikap terbuka (open minded) serta kemampuan adaptasi dalam memanfaatkan teknologi guna meningkatkan efisiensi kerja, terutama dalam dunia akademik. Ia menutup dengan pesan motivasi agar mahasiswa tidak merasa rendah diri dan terus berupaya beradaptasi dengan perubahan zaman.
Sementara itu, narasumber ketiga, Putri Amanda, S.H., M.Kn., menekankan pentingnya keselarasan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual sebagai fondasi utama dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Ia menyampaikan bahwa kemampuan beradaptasi terhadap kemajuan teknologi menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap individu. Dalam pemaparannya, ia juga memperkenalkan program Sabtu Peduli, sebuah inisiatif yang memberikan ruang refleksi sosial dengan fokus pada kepedulian terhadap sesama. Ia menjelaskan bahwa Komunitas Melati merupakan akronim dari Mengenal Diri yang Sejati, yang berfokus pada pengembangan diri berbasis pendekatan trauma healing, dengan dominasi anggota perempuan. Program ini bertujuan membentuk individu yang lebih sadar diri dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan secara bijak. Ia juga menekankan pentingnya peran individu, khususnya perempuan, sebagai madrasah pertama bagi generasi penerus bangsa yang harus dipersiapkan secara matang sejak dini.
Kegiatan seminar nasional ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif antara peserta dan narasumber, yang berlangsung dinamis dan konstruktif. Acara kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi dan penutup rangkaian kegiatan.
Melalui seminar ini, FAI Unwahas berharap mahasiswa mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual secara seimbang, sehingga dapat menjadi generasi yang unggul, adaptif, dan berdaya saing tinggi di tengah arus globalisasi.

